| Snorkeling di kaki gunung krakatau | ||||
|
|
Wiwiek Sulistyowati Seratus dua puluh empat tahun, tepatnya 27 Agustus 1883, sebuah ledakan maha dahsyat terjadi di Selat Sunda. Gunung Krakatau meletus dan melemparkan batu-batu apung dan abu vulaknik dengan volume 18 kilometer kubik. Semburan debu vulkaniknya mencapai 80 km. Bahkan menurut Simon Wincheter, ahli Geologi lulusan Universitas Oxford Inggris, yang juga penulis National Geoghrapic mengatakan bahwa ledakan itu adalah yang paling besar dan keras dan perisitwa vulkanik yang paling meluluhlantakan dalam sejarah manusia modern. Suara letusannya didengar hingga 1/8 penduduk bumi saat itu. Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai tahun berikutnya. Hamburan debu tampak dilangit Norwegia hingga New York. Lupakan masa lalu yang kelam, karena saat ini Krakatau merupakan bentang alam yang indah dan menakjubkan. Tiga perempat tubuh Krakatau yang hancur menyisakan kaldera (kawah besar) di Selat Sunda. Sisi-sisi atau tepi kawahnya dikenal sebagai Pulau Rakata, Pulau Panjang dan Pulau Sertung. Rasa penasaran dan keingintahuanlah yang membuat saya dan beberapa teman berkunjung ke sana. Berangkat pukul 5.30 dari Anyer, tempat kami bermalam, saya dan beberapa teman meluncur menuju Tanjung Lesung. Sebuah kapal bermesin 600PK telah menanti kami di sana. Udara yang cerah dan laut yang jernih membuat perjalanan yang memakan waktu dua jam terasa begitu cepat. Tak lama kemudian terlihat sosok Gunung Krakatau diselimuti warna hijau yang mempesona. Inilah gunung yang telah menghancurkan 165 desa dan merenggut 36,417 nyawa satu abad silam. Tujuan kami pagi itu adalah mendaki Anak Gunung Krakatau yang terletak di belakang “induknya.” Sosoknya yang hitam pekat dan gersang terlihat begitu angkuh. Anak Krakatau mempunyai dua buah kawah yang masih aktif. Gas belerang dan bahan endapan belerang yang keluar dari sekitar kawah makin membuatnya menawan. Anak Krakatau tercatat pernah meletus 16 kali sejak Desember 1927 sampai Agustus 1930, 47 kali sejak 1931-1960 dan tercatat 13 kali antara 1961 sampai 2000. Beruntung saat itu anak Krakatau siap didaki. Tanah di gunung ini berupa pasir hitam dan lengket sehingga kaki terasa berat untuk melangkah. Selain itu sinar matahari langsung menyerbu kami, berhubung tidak ada pepohonan. Diperlukan kesabaran dan berjuangan yang cukup berat untuk mendaki. Namun semuanya terbayar lunas, ketika kami tiba di leher Anak Krakatau. Tampak Gunung Krakatau dikelilingi oleh birunya laut bagai sebuah permata hijau yang mengagumkan. Puas melihat pemandangan yang menakjubkan itu, kami segera turun untuk ber snorkeling di kaki Gunung Karakatau. Persiapan snorkeling kami lakukan. Tries, rekan kami, yang memang seorang diver membantu saya untuk memakai peralatan. Mulailah petualangan di bawah laut. Terumbu karang yang indah dan ikan yang berwarna warni tampak begitu mempesona. Ternyata saya bertemu nemo. Yup, ikan kecil yang lucu dengan warna merah bergaris putih melintas di depan saya. Tak terasa sudah satu jam saya di bawah laut. Berat rasanya meninggalkan keindahan ini.
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|
|||||||||
| Terakhir Diupdate ( Selasa, 28 Agustus 2007 15:04 ) |








