| HKTI Dorong Kenaikan HPP Gabah dan Beras Lebih Signifikan | ||||
|
|
Jakarta, Bekasinews.com.- Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) meminta kepada pemerintah untuk menaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah dan beras lebih signifikan karena selama ini kenaikan HPP dinilai belum sesuai harapan. “Jika harga gabah dan beras tinggi sesuai dengan harapan petani maka otomatis banyak petani yang semangat menanam padi sehingga produksi bisa meningkat. Tapi apabila tidak sesuai harapan maka produksi akan menurun karena petani tidak bersemangat,” ungkap Sekjen Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Fadli Zon di Jakarta, Kamis (9/12). Ia menambahkan, pemerintah seharusnya membeli gabah petani tidak hanya berpatokan pada HPP saja, apabila harga gabah petani lagi jatuh seharusnya pemerintah berani membeli agar petani tidak mengalami kerugian dan tidak dipermainkan oleh pedagang (tengkulak). Menurutnya, apabila harga HPP sesuai harapan banyak petani yang diuntungkan sehingga mereka semangat untuk menanam padi dan akan meningkatkan produksi beras dalam negeri. “Apabila produksi beras kita meningkat bahkan surplus besar, kita tidak perlu impor beras dari luar namun kalau bisa kita melakukan ekspor,” ujarnya. Ketika ditanya mengenai kebijakan impor beras sebesar 500 ribu ton untuk cadangan beras nasional di gudang Bulog karena dianggap darurat, Fadli mengatakan, impor boleh saja tapi kalau keadaan darurat, HKTI tidak anti dengan impor, akan tetapi jangan terus berkelanjutan, katanya. Ia menegaskan, bahwa HKTI akan selalu membela suara petani terutama untuk meningkatkan kesejahteraan petani, seperti di DPR dalam membuat undang-undang, HKTI selalu mendorong agar dalam undang-undang tersebut pasal-pasalnya membela petani. HKTI juga menolak perdagangan bebas karena dianggap negara kita hanya dijadikan sebagai tujuan pasar. Menurutnya negara-negara maju itu curang dalam kebijakan perdagangan bebas seperti mereka meminta negara berkembang untuk mencabut subsidi bagi petani dan masyarakat lainnya. Sementara mereka sendiri memberikan subsidi kepada petaninya sangat besar sehingga mereka akan selalu menang dalam bersaing baik di harga maupun di produksi. Jadi di WTO pun HKTI selalu memperjuangkan suara petani, ujarnya. (Kominfo/T.Bhr/rm)
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||








