Bekasi, Bekasinews.com.- Musim kemarau yang berkepanjangan membuata para petani resah, pasalnya tanaman padi yang tengah berusia 55 hari dikawatirkan akan mati akibat sawahnya kekurangan yang disebabkan oleh musim kemarau yang panajang. Dampak kekurangan air tersebut membuat ratusan petani mendatangi Kepala Desa Sukarsa, Kecamatan sukakarya, Kabupaten Bekasi. Para petani mendatangi Kantor Desa dan Rumah Kades untuk memohon agar masyarakat petani mendapatkan air, karena disaluran sekunder yang biasa menjadi penampung air, kini tampak kering, sehingga tidak dapat mengairi sawa para petani.
Sesampai di rumah kades, ratusan petani mengutarakan kekawatirannya kalau sawahnya tidak diairi maka padi yang telah di tanam akan mati, sehingga kerugian akan melanda para petani, yang telah mengeluarkan biaya untuk bertanam, untuk satu hektarnya diperkirakan biaya untuk bercocok tanam padi akan menghabiskan 1-2 juta rupiah, sedanga areal pertanian yang telah di Tanami padi dan berusia 55 hari, berkisar 470 Ha.
“Penghasilan kami hanya dari hasil buruh bertani, klu sampai gagal panen dan tanaman padi kami mati, bagaimana pak kades saya menghidupi keluarga saya” ujar salah satu petani ketika menyampaikan aspirasinya di hadapan kades.
Keluhan masyarakat petani Desanya membuat Kades turut prihatin sehingga Kades Arba, bersama para petani mendatangi kantor pengamat pintu air yang terletak di lemah abang untuk mohon agar saluran sekunder segera dialiri air.
Menurut keterangan Kades Sukakarsa Arba mengatakan, kekeringan ini terjadi akibat menurunnya debit air berkurang akibat musim kemarau panjang sehingga saluran sekunder kekurangan air.
“Saya bersama petani dan berupaya keras untuk mendapatkan air, saya bekerja sama dengan pengamat dan ulu-ulu untuk berupaya air mengalir kesawah yang ada didesa saya, alhamdullilah upaya kami tidak sia-sia saat sekarang para petani mulai dapat mengairi sawahmya.”ujar Kades.
“Saya berharap pada saat musim tanam nanti para petani tidak kesulitan air lagi, karena jika para petani gagal panen akan mengakibatkan kerawanan social, karena penghasilan masyarakat Desa Sukarsa hampir 90% adalah petani atau juga petani penggarap yang jadi tumpuan hidup masyarakat petani.” tandas kades lagi ( M. Joko YP)
|