|

Terlepas dari semua itu, kemampuan olah vocal dan insting musikalitas Syaharani patut diacungi jempol. Pasalnya, selain menyanyikan tambang jazz, rock, house music, R&B dan disco, Rani-begitu sapaan akrabnya, juga berani tampil dalam pentas pertunjukan broadway musical, beberapa waktu lalu.
Di Indonesia, penyanyi pop atau rock, banyak bermunculan. Tapi, sepertinya tidak banyak penyanyi yang berani bermain dalam ranah musik jazz, bahkan mengusungnya sebagai ciri khasnya. Terlebih, penyanyi perempuan. Syaharani merupakan salah satu diantaranya. Meski terkenal sebagai penyanyi bersuara jazzy, tapi perempuan yang memiliki nama lengkap Saira Syaharani Ibrahim itu juga berani mengekplorasi kualitas dan kemampuan musikalitasnya ke dalam ranah musik yang lain seperti rock, house music, lounge, R&B, dan disco. Supaya tidak ada tumpang tindih dalam menilai seorang Syaharani, perempuan kelahiran Batu, Malang, Jawa Timur, 27 Juli 1971 ini pun sedikit memberikan sekat pembeda dengan membentuk Syaharani and Queen Fireworks.
Terlepas dari semua itu, kemampuan olah vocal dan insting musikalitas Syaharani patut diacungi jempol. Pasalnya, selain menyanyikan tambang jazz, rock, house music, R&B dan disco, Rani-begitu sapaan akrabnya, juga berani tampil dalam pentas pertunjukan broadway musical, beberapa waktu lalu. Seperti apa perasaan Rani tampil dalam pertunjukkan tersebut? Berikut wawancara IndonesiaSelebriti.com dengan Syaharani. 
IS : Apakah tampil dalam musical broadway merupakan impian dari sejak lama? S : Ya, gua rada bleesing in disguised gitu. Karena kan gak nyangka kalau di Jakarta ini bakal ada lagu-lagu yang istilahnya gue dengar udah dari kecil. Kan selama ini kan konser2 itu, konser jazz, ya standar jazz dan gue pernah main di situ. Konser rock, gue juga pernah main bareng Slank. Tapi ini kan, konser yang lain. Yang gue belum pernah lakuin sebelumnya. Nyanyi lagu-lagu broadway itu, gue belum pernah. Jadi, ini nambahin catatan perjalanan gue. Secara gue tuh, ternyata orang yang sangat menyukai segala macam musik. Karena, konser rock pernah ikut, jazz juga iya, konser pop, gue rasa gue udah pernah. Dan itu broadway semi classical ini, gue seneng banget dikasih kesempatan. Hanya satu yang belum pernah. Konser dangdut. Karena, gak bisa.
IS : Kenapa kamu yang dipilih sebagai salah satu artis penyanyi yang terlibat dalam Unforgettable Love? S : Nah itu gue gak tahu. Gue gak ikut casting atau audisi. Kemungkinan besar sih, karakter suara. Kemungkinan lainnya, mereka tahu waktu gue nyanyi di lounge-lounge, koleksi lagu -lagu broadway yang gue nyanyiin cukup banyak. Dan gue itu kan menyanyikan apa yang gue suka. Kalau gue gak suka, gue akan nolak. Itu berlaku untuk segala hal. Termasuk untuk konser maupun rekaman juga. Ya, gimana. Namanya kesenian itu kan harus ada kerelaan. Kalau misalkan gak rela, gue jadi kayak orang gila. IS : Lagu yang akan dinyanyikan apa aja nih? S : I Love You, That's The Way You Are. Sama satu lagi, judulnya Somewhere. Itu dari Westside Stories. Itu lagu kesukaan saya, dari jaman kecil. Jadi seneng banget bisa dapat kesempatan menyanyikan lagu tersebut. IS : Untuk materi lagu, itu pilihan sendiri? Seandainya boleh memilih, kamu ingin nyanyikan lagu apa? S : Untuk lagu, itu pilihan dari mereka. Oh, tetap Somewhere. Itu kan lagu kesukaan gue. Ya, ini kan kali pertama. Lain kali, ngambil yang rock opera itu kan boleh juga. Dari Phantom of The Opera, gue juga sangat menggemari Phantom. Cuma suara gue untuk itu, gak nyampe. Kan suaranya harus sopran. Jadi harus tahu diri. IS : Apakah kamu penggemar broadway? S : Menurut gue sih, iya. Karena lagu-lagunya itu menurut gue asyik-asyik. Dan untuk mengarang lagu seperti itu, tuh susah. Gak semua orang bisa. Memang broadway itu something different. Salah satu sisinya, karena kesan megah yang ditampilkannya dan melibatkan banyak unsur seperti orkestrasi, dancer, dan penyanyi solo. Dari sisi materi musik dan lagu. Menurut aku juga membutuhkan tingkat konsentrasi tertentu. Karena, nyanyiin lagu2 broadway itu gak bisa hanya selintas. Harus ada ekspresi, harus ada interpretasi yang bagus. Sehingga lagu-lagunya menjadi hidup, nyata dan kelihatan. Karena memang bentuk musiknya dibikin seperti itu. Itu yang sulit. IS : Ada kesulitan untuk menyanyikan lagu-lagu broadway, secara dari musik jazz ke musik pop ala broadway? S : Gak. Karena kan basic gue gak harus di musik jazz aja ya. Gue dengar musik klasik juga. Demger rock juga iya, sebenarnya. Jadi lumayan cukup in put-lah. Yang jelas, gue harus punya style gue sendiri. IS : Sebenarnya, style seorang Syaharani seperti apa sih? S : Style-nya itu style detail. Jadi gini, lagu-lagu macam broadway ini gue gak mau improvisasi terlalu banyak. Karena, ntar jadi ribet. Lagunya jadi lebih ribet. Jadi gue pengen punya pola pengungkapan, penekanan kata-katanya, emosi dan ekspresinya, itu cara gue sendiri. Biasanya, yang dibangun musik-musik teatrikal untuk broadway seperti itu. Jadi kita, mengulik ekpresi dan emosional kita. Lebih kesitunya. Jadi gak harus bikin improvisasi di sisi nadanya. Di sisi ekpresinya itu tadi, juga bisa. IS : Berapa lama persiapan yang dilakukan untuk tampil dalam pertunjukkan ini?
S : Kalo gue sih, tandeman sendiri di rumah. Karena, perkaranya jadwal. Karena belakangan ini, jadwal gue rada berantakan. Mondar-mandir kesana kemari. Terus naik turun pesawat. Secara gue udah hampir dua minggu ini pulang ngelihat rumah gue hanya dua hari. Tapi lagu-lagu udah masuk sejak dari lama dan panitia selalu ngasih guide. Panggungnya seperti ini. Kebetulan kedua lagunya, gue udah hafal banget. Tapi yang paling penting menurut gue adalah pengambilan nada. Karena itu hal yang sangat-sangat penting banget. Karena kan, penyanyi broadway atau musikal itu kan kebanyakan suaranya tinggi-tinggi, secara suara gue ngebass. Jadi, gue harus menyesuaikan diri dengan itu. Yang paling cocok dengan gue aja. Jadinya, harus lebih gue. Kelebihan dan keterbatasannya ngikutin yang ada pada gue aja. IS : Punya bayangan nanti bakal tampil seperti apa? Apakah akan seperti pertunjukan broadway yang pernah kamu tonton? S : Pastinya akan sedikit berbeda ya. Karena menurut gue, kalau kita misalkan menonton pertunjukan broadway musical yang asli seperti yang di New York dan di Austria, mungkin mereka punya warna sendiri-sendiri. Sedangkan di Jakarta ini, gue yakin teman-teman dari D'Chorus dan senior-senior yang lain pasti punya warna sendiri, yang menurut gue itu yang bakal menjadi daya tarik. Karena tamu-tamunya kan dari berbagai kalangan. Kayak tamu kenegaraan dan kedutaan-kedutaan. Alangkah baiknya mereka bisa menonton sesuatu yang satisfied. IS : Pernah lihat pertunjukan teater musical sebelumnya? S : Gue pernah nonton Phantom of The Opera di Belanda. Kalau ini kan hanya pertunjukan musical. Jadi hanya lagu-lagunya yang dibawain. Kalau itu tuh, opera beneran. Jadi ada act and re-act, ada dialog, dan segala macam. Kalau ini, kita hanya ngambil musikalnya aja. Jadi ini bentuknya lebih kayak konser musical broadway. Jadi, musikalnya aja yang diambil. Beda sih. Tapi koleksi lagu-lagunya, menurut gue, gak kalah. Dan jarang ditampilin orang ya. Pun sehari-hari, kalau kita lihat band top fouty, gak adalah yang mainin lagu ini. Jadi menurut gue, buat orang-orang di Jakarta, ini refreshment banget. Yang gue harapin sih, jadi ada suguhan yang lain dan tidak monoton yang gitu-gitu aja. Itu pasti dibutuhkan. Apalagi kita di kota. Banyaklah orang kebutuhannya macam-macam dan kebutuhan akan hiburan juga beragam. IS : Sebenarnya saat menonton pertunjukan teater musical, apa sih yang kamu lihat? S : Apa ya. Yang pasti, pertama kali nonton Phantom of The Opera, gue lihat tata panggungnya. Kan gue orangnya suka tehnis. Yang kedua, ya itu. Ngeliat orang nyanyi sembari act. Suaranya yang sopran, sopran banget. Itu kan sangat mengejutkan buat gue. Gue pikir, meskipun ini hanya musikalnya aja, tapi gue yakin teman-teman D'Chorus, menurut gue sih, okelah. Untuk pilihan hiburan di Jakarta. Gue harap sih juga mereka bisa keliling. Bisa ke Singapura. Sebenarnya, meurut gue, kalo ditangani secara professional bakal itu selalu bisa dimaksimalkan. IS : Kalau secara teknologi, apakah pertunjukan teater musical di Indonesia sudah sebanding dengan di luar negeri? S : Menurut gue sih, udah sebanding ya. Kayak orang bisa beli lampu A, mixer B, di sini tuh orangnya kaya-kaya. Cuma mungkin yang perlu ditingkatin lagi tuh, Sumber Daya Manusia (SDM)-nya. Sehingga sebuah pertunjukan itu, lampunya cocok dengan tema dan lagu yang saat itu dinyanyikan. Gue rasa itu, PR (pekerjaan rumah) umumlah. Tapi kalau soal perangkat alat, gue rasa gak kalah sama di luar negeri. Perkara, tim tabelling aja, mungkin ya. Kayak hemat waktu dan lainnya. Tapi emang kondisi di sini dan di sana berbeda ya. Tapi gue rasa pelan-pelan bisalah mengarah ke situ. IS : Selain ini, kesibukan apa sih? S : Ya, biasalah, penyanyi, entertain. Ada acara ini,acara itu. Kemarin terakhir, ada acara di Malang, Jawa Timur dan besoknya harus nyanyi di Jakarta, buat anak-anak prom. Itu bareng Queen Fireworks. Kalau buat acara-acara yang lebih dewasa, aku bawa Syaharani. Kan di manajemenku, punya dua produk. Syaharani, sebagai jazz singer dan nyanyi lagu-lagu semi klasik, pop. Dan satu lagi, Syaharani and Queen Fireworks, itu lebih gaul. Mainnya lebih lounge, club, pop, R&B, dance. Selain lagu Queen Fireworks, kita nyampur. Tapi cuma, 1-2 lagu. Sisanya, biasanya dari lagu itu, kita aransemen ulang. Gimana caranya bisa jadi beat-beat yang oke. Kebetulan. Lagu-lagunya Queen Fireworks itu kan ada 4-5 yang ngebeat. Itu kadang-kadang bisa kita medley-in buat lagu dance floor. Oke sih. Bisa dibikin disko tahun 80-an. Bisa dibikin kayak elektronik dance juga. Itu sih terserah kita aja. Kalau untuk Queen Fireworks, emang gue yang produce. Jadi gue harus nyiapin. Gak cuma harus buat album baru. Setiap konser itu kan gue gak mau nyanyiin lagu Queen Fireworks yang sama. Kayak kalau diundang tampil di acara-acara Promnite. Itu udah jelas party. Mereka pasti mau ngedance. Jadi gue nyiapin lagu dan gue aransemen gimana caranya, supaya bisa jadi dance for teen. Jadi gak terlalu putus antara lagu yang satu dan yang lain. Selain itu, beat-nya juga kita rubah. Ada yang jadi classic disco, disco seventies. Jadi gue harus mikirin, Ini dibikin kayak gini, untuk konser yang mana. Jadi kita punya kode sama anak-anak Queen Fireworks. Misalnya side A, kita main lagu seperti di CD. Side B, kita buat mainin lagu yang rada-rada funky. Side ketiga, kita punya lagu untuk disco-discoan. IS : Apakah nanti, Syaharani dan Queenfireworks ingin mengkhususkan diri main di jalur disco? S : Gak. Sebenarnya gue main udah sejak tahun 2000-an. Tapi kalau main di club, belum pernah. Waktu itu, main di Istora Senayan bareng DJ Romy. Tapi semua kemungkinan oke-oke aja sih. Gak masalah. Yang penting, ciri khas gue gak hilang aja. IS : Adakah kemungkinan Syaharani main dalam club, seperti Embassy? S : Kalau settingan peralatan dan hal penunjang lainnya memenuhi syarat yang diajukan manajemen gue, gak masalah. Artinya gue masih control semuanya dengan benar dan areal musikalnya gak terlalu jauh. IS : Pernah mempunyai pengalaman main di club? S : Sudah pernah. Dulu waktu gue launching, DJ Romy featuring gue dan pas mas Romy launching featuring gue. Itu di Embassy. Gak masalah. Kebetulan dia agak progresif, jadi gak terlalu planet-planet banget. Dan musiknya masih enak didengrinnya, masih house music. IS : Untuk album baru, mana yang lebih diprioritaskan? S :Yang paling dekat, yang pengen kita beresin. Syaharani dulu ya. Soalnya kan sudah lama banget. Yang jazz-an itu. Baru setelah itu, Queen Fireworks. Tapi ngerjain lagunya gak bisa dipisahin. Karena kalau Queen Fireworks itu kan gue ngarang sendiri plus gue ngambil lagu teman2 gue yang oke. Kalau ngarang itu kan dapat idenya, gak tentu dan tiba-tiba. Kalau yang Syaharani malah gampang, karena kan lagu-lagunya recycle. Jadi tinggal buka bank lagu dari tahun 1930-an sampai sekarang. Mana yang oke. Apakah itu lagu standar jazz atau lagu pop yang bisa kita re-arrange jadi jazz atau lagu rock yang bisa kita re-arrange jadi jazz. Itu cuma tinggal didenger dan bikin imajinasi aransemennya dulu di kepala. Kalau Queen Fireworks harus ngarang dari nol. IS : Masih adakah rasa trauma dengan tata lampu dan panggung, mengingat beberapa waktu lalu Syaharani pernah mengalami kecelakaan saat pentas di panggung? S : Itu menjadi PR anak-anak manajemen gue. Mereka yang ngecek dan ngericek semuanya. Yang gue tanamin di kepala gue, gue ini adalah performer lepas dari gue seorang produser atau apalah atribut dibelakangnya. Tapi kalau di panggung, gue adalah performer. Kerjaannya ya tampil sebaik mungkin. Mikirin jenis komunikasi apa yang bakal gue lakukan dengan penonton, kalau dibutuhkan atau gak, gue harus bisa baca itu. Sisanya, mau mati, mau jungkir, terserah Tuhan deh. Sama terserah manajemen gue. Sumber : indonesiaselebriti
|